Select Page

Batu Angin di Wot Batu (sumber: wotbatu.id)

Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke. Begitulah kutipan yang akan kamu temui didalam kompleks Wot Batu ini. Kutipan tadi merupakan salah satu kalimat yang diambil dari Naskah Amanat Galunggung – kumpulan naskah kuno yang berasal dari kabuyutan Ciburuy, Garut Selatan — yang berarti ‘Ada hidup yang lalu, ada hidup yang sekarang. Tak ada hidup yang lalu, tak akan ada hidup yang sekarang’. Yap, dalem banget kan artinya? Sebenarnya ada apa sih di Wot Batu ini?

Wot Batu ini adalah sebuah karya instalasi ciptaan seorang seniman kelahiran Banyumas yang bernama Sunaryo. Dalam dunia seni rupa, namanya sudah tidak asing lagi. Pada tahun 1998 beliau mendapatkan Honorable Mention (Painting) dari Indonesian Ministry of Tourism and Culture. Jauh sebelum itu, pada tahun 1978 beliau menjadi 2nd Winner dalam Graphic Competition yang diusung oleh International Association of Art (IAA) dan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di Paris, Perancis. Kontribusi beliau dalam dunia seni rupa sangat besar, mendunia, dan patut diapresiasi.Dalam lahan seluas 2000 m2, Sunaryo menata bebatuan tersebut dengan sangat konseptual. Kurang lebih sebanyak 135 batu vulkanik ditata sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah instalasi karya seni yang mengesankan. Tetapi, Wot Batu bukan sekadar taman dan instalasi batu. Lebih dari itu, Wot Batu adalah sebuah media yang menjembani aspek spiritualitas seorang hamba kepada Tuhannya, juga merupakan keseimbangan antara jiwa manusia dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Didalamnya, elemen-elemen alam semesta pun turut menjadi saksi. Tanah, api, air dan angin saling berkorelasi membentuk sebuah harmoni. Ini adalah sebuah media penyadaran kolektif tentang eksistensi dan aktualitas manusia dalam dimensi alam semesta. Kumpulan bebatuan ini berhasil dibuat beliau menjadi sebuah mahakarya yang sarat makna bagi siapapun yang melihatnya. 

Batu Gerbang – Batu Mushalla – Batu Abah Ambu – Batu Merenung (kanan-kiri) (sumber: wotbatu.id)

Ketika masuk di Wot Batu, kamu akan disambut oleh Batu Gerbang yang merupakan sebuah awalan untuk menuju ke lorong transisi yang merupakan pemisah antara dimensi Wot Batu dan dunia luar. Selanjutnya adalah Batu Mushalla. Instalasi Batu Mushalla ini terpasang dalam sebuah kaca yang diatasnya dicetak surat Al-Fatihah. Batu kecil didalamnya diambil Gua Hira, sehingga membuat Sunaryo merasa hal ini menghubungkan Wot Batu dengan Tanah Suci Mekkah. Selanjutnya ada Batu Abah Ambu. (Batu) ini mencerminkan awal mula kehidupan yang berasal dari seorang Abah yang digambarkan sisi maskulinitasnya sebagai seorang laki-laki, dan Ambu yang digambarkan sisi feminisnya sebagai seorang perempuan. Selanjutnya adalah Batu Merenung, yaitu sebuah kursi batu yang sengaja dirancang menghadap ke arah timur, agar pengunjung bisa menikmati pemandangan Wot Batu secara menyeluruh. Tempat yang pas untuk menikmati pemandangan Wot Batu sembari berdamai dengan diri sendiri,

(sumber: wotbatu.id)

Wot Batu ini terletak di sebuah tempat strategis dan cukup jauh dari hiruk pikuk kota, yaitu di Jalan Bukit Pakar Timur no. 98, Ciburial, Cimenyan, Bandung, biaya masuknya adalah Rp50.000,00 untuk umum, dan Rp. 30.000,00 untuk pelajar atau mahasiswa, seniman, dan anak dibawah 5 tahun, dan gratis untuk lansia (diatas 70 tahun). Buka setiap hari Selasa sampai Minggu, Wot Batu ini bisa kamu kunjungi mulai dari pukul 10.00 WIB sampai dengan 18.00 WIB. Jika kamu ingin menikmati suasana Wot Batu sembari duduk dan minum kopi, kamu bisa mendatangi Kopi Selasar, yaitu sebuah Coffee Shop yang merupakan bagian dari Selasar Sunaryo Art Space.  

Masih banyak instalasi bebatuan lainnya yang harus kamu lihat disini. Semuanya sarat akan makna. Menurutku, Sunaryo benar-benar merancang (Wot Batu) ini dengan konsep yang matang. Semua maknanya benar-benar dekat dengan kita sebagai manusia yang hidup dan menjadi bagian kecil dari alam semesta. Setiap batu seakan menyuarakan dirinya sendiri. Banyak makna dan filosofi yang bisa kita tangkap dan kita terapkan di kehidupan. Penasaran? Jangan banyak mikir dulu, langsung saja kesini dan cari tau sendiri!

Penulis: Darasyifa

Editor: Alfonsus Ganendra