Select Page

Sumber foto: https://jejakpiknik.com/

Suara palang yang khas terdengar dari kejauhan. Tidak lama setelah itu, salah satu transportasi jarak jauh lewat dengan kencangnya di atas rel dengan bongkahan batu kecil yang mengelilingi track permanen transportasi tersebut. Tanpa rel, kereta tidak akan bisa berjalan. Tanpa kereta, manusia tidak bisa bepergian jauh dengan mudahnya. Setidaknya, kereta menjadi moda transportasi utama pada jaman penjajahan, dengan batu bara sebagai bahan bakar penggerak kereta. Transportasi barang maupun manusia akan menjadi cepat ketika menggunakan kereta, sehingga terdapat beberapa jenis kereta dan gerbongnya dan perubahannya dari jaman ke jaman. Untuk mengetahui sejarah yang cukup panjang tersebut, kalian bisa mengunjungi salah satu museum kereta yang terkenal di Indonesia, yaitu Museum Kereta Api Ambarawa. 

Bermula dari Letusan Gunung Merapi

Ambarawa | Sejarah, Indonesia, Belanda

Sumber foto: https://nl.pinterest.com/pin/695172892454742519/

Stasiun Kereta Api Ambarawa atau dulu dikenal dengan nama Stasiun Willem I merupakan stasiun kereta api yang aktif hingga tahun 1972 ketika ada banjir lahar pasca erupsi Gunung Merapi. Akses ke Magelang menjadi tertutup sehingga stasiun Ambarawa, salah satu penghubungnya menjadi tidak beroperasi. Tahun 1976, Gubernur Jawa Tengah kala itu memutuskan untuk mengumpulkan segala benda yang berhubungan dengan kereta api dan alhasil pada 1978 dibukalah Museum Kereta Api Ambarawa. Hingga kini, museum ini menjadi salah satu destinasi favorit di Jawa Tengah.

Selain karena banyaknya benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan dunia kereta api seperti alat perubah arah lintasan rel, gerbong kereta api jaman dulu, dan ruangan yang dulunya digunakan untuk pengopreasian operator di stasiun, pengunjung juga bisa melihat linimasa sejarah perkembangan kereta di Indonesia yang tertulis di sepanjang tembok pintu masuk ke dalam museum. Linimasa yang sangat detail tersebut menceritakan awal mula munculnya kereta api di Indonesia – sekitar tahun 1875 saat dimulainya pembangunan jalur kereta api oleh perusahaan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada masa penjajahan Hindia Belanda – berlanjut ke lahirnya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI).setelah Indonesia berhasil mengambil alih Kantor Pusat Kereta Api Bandung pada tanggal 28 September 1945 (tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia), hingga kemunculan kereta diesel sebagai jenis kereta api utama di masa sekarang. Pengunjung museum akan tertarik untuk membaca linimasa ini karena lengkapnya penjelasan dengan gambar atau foto hitam putih hingga foto berwarna yang menjadi saksi bisu perjalanan kereta api di Indonesia. 

Pengalaman Melihat Stasiun Lawas dan Menaiki Kereta Uap 

Setelah melihat sejarah kereta api, pengunjung akan melihat beberapa lokomotif dan gerbong kereta tua yang sudah tidak dipakai. Lokomotif dan gerbong kereta tersebut memiliki perbedaan tata letak di dalamnya. Saat berjalan memasuki stasiun Ambarawa, di sebelah kiri terdapat satu kereta dengan berbagai gerbong yang masih tersambung namun sudah tidak dipakai. Kereta ini sudah di percantik dengan penambahan warna dan menjadi tempat yang instagrammable, cocok untuk berfoto ria di dekat kereta ini. Sepanjang bangunan stasiun terdapat banyak benda bersejarah yang dipajang dan tertulis juga sejarahnya dalam satu kertas yang tertempel di dekat benda tersebut. Pengunjung bisa mendapatkan banyak informasi menarik. Tak dapat dipungkiri, inilah yang membuat museum ini sering dikunjungi dan menjadi tempat study tour anak-anak TK atau SD di sekitar Ambarawa. 

Museum Kereta Api Ambarawa – Ransel Kecil

Sumber foto: http://ranselkecil.com/

Tidak hanya melihat benda-benda bersejarah, di sini pengunjung juga dapat merasakan pengalaman baru – bagi yang belum pernah – yaitu menaiki kereta api uap. Kereta api uap merupakan kereta dengan bahan bakar utama batu bara. Kereta ini digunakan pada masa penjajahan Belanda hingga akhirnya berganti menjadi diesel. Di sini terdapat salah satu kereta api uap yang masih dapat beroperasi dan bisa dinaiki. Hanya dengan harga Rp60.000, pengunjung dapat menikmati perjalanan Ambarawa menuju Tuntang denga npemandangan yang indah dari kereta api uap selama 1 jam. Namun, dikarenakan kereta ini sudah “tua” maka tidak dapat beroperasi tiap hari untuk menghindari kerusakan. Sehingga pengunjung hanya bisa menaiki kereta ini di hari dan jam tertentu saja.  

Menengok Lokomotif Warisan Kolonial di Museum Kereta Api Ambarawa

Sumber foto: https://kumparan.com

Museum yang berada di Jalan Stasiun, Jl. Panjang Kidul No.1, Kecamatan Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah buka setiap hari pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuknya tergolong murah, yaitu Rp.5.000,- untuk anak-anak dan Rp.10.000,- untuk dewasa.  Untuk jadwal keretanya akan tersedia biasanya pukul 11.00 WIB dan 14.00 WIB. Museum ini merupakan salah satu dari lima museum kereta api di Indonesia. Bagi para penggemar sejarah dan yang senang naik kereta api, berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa merupakan pilihan yang sangat tepat. Sejarah kereta api, pengalaman menaiki kereta api uap bisa dinikmati di sini sembari keluar dari hiruk pikuk perkotaan. Nostalgia suasana stasiun jaman dahulu masih bisa terasa di sini. Museum Ambarawa ini kemudian menyimpulkan satu hal, bahwa benar kereta menjadi transportasi yang tak lekang oleh waktu. 

Penulis: Alfonsus Ganendra

Editor: Alfonsus Ganendra